
Kota Palembang adalah sebuah kota tertua di Nusantara, mempunyai sejarah panjang dalam khasanah budaya Nusantara. Sebuah nama yang paling banyak memberikan catatan bahkan ilham dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan di Nusantara. Meskipun nama ataupun toponim Palembang itu sendiri secara sederhana hanya menunjukkan suatu tempat(Pa yang berarti suatu kata awal menunjukkan tempat). Kosa kata lembang berasal dari bahasa Melayu yang artinya: tanah yang rendah, tanah yang tertekan, akar yang membengkak dan lunak karena lama terendam dalam air. Sedangkan menurut bahasa Palembang sendiri: lembeng adalah mengalir , menetes atau kumparan air. Selanjutnya dalam bahasa Melayu : lembang berarti: tanah yang berlekuk, tanah yang menjadi dalam karena dilalui air, tanah yang rendah. Ada pengertian lain dari lembang yan cukup menarik, yaitu : tidak tersusun rapi, berserak-serak.
Pengertian Pa-lembang adalah tempat yang berkumparan air, atau tanah yang berair dicatat pertama kali oleh pelapor Belanda pada tahun 1824 didalam bukunya Proeve Eener Beschrivijng van het Gebied van Palemban. Diterbitkan oleh J.Oomkens, Groningen tahun 1843, dan penulis atau pelapor tersebut adalah W.L.de Sturler(Pensiunan Mayor pada tentara Belanda). Dengan demikian pengertian orang-orang Palembang pada waktu itu tentang nama kotanya adalah ‘tempat yang tergenang air’.
Letak dan bentuk kota.
Kota Palembang terletak sekitar 75 mil dari muara Sungai Musi, dimana muara tersebut terletak di Selat Bangka. Kota itu sendiri terletak dipinggir sungai Musi diantara muara sungai Ogan dan sungai Komering(dua sungai besar yang bermuara di sungai Musi). Kota ini diyakini telah berumur 1320 tahun, berdasarkan atas tafsir dan analisa prasasti Kedukan Bukit.
Dalam penelitian sejarah dan arkeologi yang panjang dan berlarut(sejak tahun 1918), maka setelah berpolemik dalam tulisan-tulisan dan seminar-seminar yang hangat, para pakar dan sarjana berkesimpulan adanya kerajaan besar bernama Sriwijaya yang pada abad ke 7 berpusat di Palembang. Sejak tahun 1982 - 1990 penggalian arkeologi secara intensif dilakukan di kota Palembang. Hasilnya merupakan hasil analisis temuan arkeologi, antara lain: prasasti, arca, keramik, fragmen perahu dan ekskavasi pada permukiman kuno.
Bentuk kota Palembang dari abad ke 8 - 9 berdasarkan laporan dan catatan kronik Cina serta tulisan pelaut Arab dan Parsi dapat diyakini bentuknya adalah memanjang sepanjang sungai Musi mulai dari sekitar Pabrik Pupuk Sriwijaya sampai ke Karang Anyar, dimana dibagian seberang ulu tidak ada permukiman. Bentuk kota ini secara morfologi kota disebut ribbon shaped city(kota berbentuk pita). Luas kota menurut catatan saudagar Arab, Sulayman, pada tahun 815 yang mencatat beberapa gosip para pedagang, bahwa “pantas dapat dipercaya bahwa luas kota ini didengar dari kokok ayam diwaktu subuh dan terus menerus berkokok bersahutan dengan ayam jantan lainnya yang berjarak lebih dari 100 prasang(satu prasang kurang lebih 6,25 km), karena kampungnya berkesinambungan satu sama lain tanpa terputus”. Apa yang dicatat oleh saudagar Arab tersebut, tidak jauh dari anekdot yang dicatat oleh pelapor Belanda L.C.Westenen: bahwa besarnya batas kota ini digambarkan bagaimana seekor kucing dapat berjalan tanpa memijak tanah dari Palembang Lama ke Batanghari Leko, karena cukup dengan hanya melompati dari satu atap ke atap lain dari rumah-rumah penduduk.
Dapat dibayangkan dalam kenyataan Palembang pada masa Sriwijaya tersebut dengan membandingkan letak dari prasasti Telaga Batu yang berada di kampung 2 ilir dan prasasti Kedudukan Bukit di 35 ilir, serta prasasti Talang Tuo yang berada di Kecamatan Talang Kelapa. Dan yang pasti bentuk kota Palembang orientasinya sepanjang sungai Musi dibelahan seberang ilir. Dapat pula dikatakan Palembang pada waktu berada diperairan antara muara Sungai Komering dan Sungai Ogan.
Bagaimana terserak-seraknya kota Palembang pada waktu, seperti arti kata lembang(=terserak-serak, tidak tersusun rapi), dapat dibaca dari catatan Cina abad ke 12 dan 13: “Penduduknya tinggal diluar kota, atau mereka tinggal dirakit diatas air, suatu tempat tinggal yang lantainya terdiri dari bambu. Mereka dibebaskan dari segala bentuk pajak.”
Selanjutnya catatan Cina lainnya yaitu Yeng-yai sheng-lan-chiao-chu;
menggambarkan keadaan masa itu sebagai berikut: “Tempat ini dikelilingi oleh air dan tanah kering sedikit sekali. Para pemimpin semuanya tinggal dirumah-rumah yang dibuat diatas tanah yang kering dipinggiran sungai. Rumah-rumah rakyat biasa terpisah dari rumah pemimpin, mereka semua tinggal diatas rumah-rumah rakit yang diikatkan pada tiang ditepian dengan tali. Apabila air pasang, rakit akan terangkat dan tak akan tenggelam. Seandainya penduduk akan pindah ketempat lain, mereka memindahkan tiang dan menggerakkan rumahnya sendiri tanpa mengalami banyak kesulitan. Didekat muara sungai, pasang dan surut terjadi 2 kali dalam sehari dan semalam.”
Gambaran bagaimana kehidupan penduduk Palembang dengan air atau sungai, digambarkan dengan jelas oleh sarjana biologi Inggris yang terkenal diabad ke 19 sewaktu berkunjung ke Palembang, yaitu Alfred Wallace Russel: “Penduduknya adalah orang Melayu tulen, yang tak akan pernah membangun sebuah rumah diatas tanah kering selagi mereka masih melihat dapat membuat rumah diatas air, dan tak akan pergi kemana-mana dengan berjalan kaki, selagi masih dapat dicapai dengan perahu.”
Gambaran Alfred Wallace Russel tersebut merupakan suatu kenyataan buruk bagi Gemeente Palembang, yaitu suatu kendala saat Gemeente ingin membangun kota Palembang secara modern. Dalam laporan 25 tahun setelah Palembang menjadi Gemeente, yaitu suatu pemerintah kota yang otonom pada tahun 1906 adalah sebagai berikut: “Kesulitan untuk mendapatkan lahan pembangunan yang cocok dalam kota ini disebabkan, disatu fihak masih banyak rawa-rawa diantara tanah yang lebih tinggi, dilain fihak ditanah yang tinggi yang baik itu dipenuhi oleh terutama tanah pekuburan. Generasi-generasi terdahulu memilih tempat tinggal ditanah-tanah rendah dekat air, dan menguburkan jenazah-jenazah mereka ditanah tinggi yang kering( italic oleh penulis).
Selanjutnya laporan pada tahun 1930 menggambarkan bahwa topografi Palembang sebagai suatu waterfront, kota yang menghadap keair dengan anak-anak sungai yang besar dan kecil memotong kedua tepiannya, sehingga membentuk kota laguna. Banyaknya anak-anak sungai memberikan kota ini julukan yang lebih indah, sebagai Indisch Venetie. Gambaran kota lebih lagi mempunyai cirinya yang jelas dengan banyaknya rumah-rumah dibangun diatas tiang-tiang kayu oleh karena permukaan tanah yang luas dari kota ini adalah rawa. Rumah-rumah ini satu dengan lainnya dihubungkan dengan jembatan layang yang sederhana dari kayu diatas tiang-tiang.
Adanya pasang surut dan lebatnya hujan, menyebabkan permukaan air berbeda sangat besar. Perbedaan tingkat pada air pasang surut di musim hujan dengan musim kemarau kira-kira 3,8 meter. Pada saat air pasang banyak tanah tenggelam dibawah air, dimana “tambangan”(perahu) berkeliling dengan lincah disekitar kota, menimbulkan suatu pemandangan bagaikan lukisan. Sebaliknya pada saat air surut, tanah dan solok(anak sungai kecil) berubah, menjadi lumpur dan solok-solok lumpur, yang memberikan pemandangan yang tidak indah dan rakyat menamakannya “kota lumpur”.
Palembang Dari Masa ke Masa
Masa Sriwijaya Abad 7—12
Masa Palembang Abad 12—14
Masa Cina Abad 14—16
Masa Keraton Jawa Abad 16—17
Masa Kesultanan Palembang Darussalam Abad 17—19
Masa Kolonial Abad 19—20
1. Masa Sriwijaya
Prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Palembang
Prasasti Kedukan Bukit 16 Juni 682
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Boom Baru
Prasasti Bukit Seguntang
Prasasti Talang Tuo 23 Maret 684 M
Fragmen k.l sebanyak 30 buah
Faktor-faktor yang mendukung Palembang sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya
Kota Palembang mempunyai keuntungan atas letaknya, yaitu dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara 3 kesatuan wilayah:
- Tanah tinggi Sumatera bagian barat, yaitu pegunungan Bukit Barisan.
- Daerah kaki bukit dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.
- Dataran pesisir Timur-laut.
Keruntuhan Sriwijaya
Persaingan yang keras antara lain dengan Siam dan Jawa.
Konflik dengan Tamil-Cola dan serbuan mereka atas Sriwijaya.
Kebangkitan Islam yang tumbuh dari wilayah Sriwijaya, seperti Pasai.
Pusat Sriwijaya dipindahkan ke Jambi.
Operasi Pamalayu (1272-1292) oleh Kartanegara.
2. Masa Kerajaan Palembang
Palembang sebagai kota pelabuhan masih tetap eksis, walaupun tidak menyandang kedudukan sebagai pusat Sriwijaya.
Tahun 1374 Maharaja Palembang mengirim utusannya ke Cina. Parameswara adalah raja terakhir Palembang.
Mojopahit mengklaim sebagai penguasa Palembang (1350)
3. Palembang Masa Cina
Setelah tidak adanya supreme ruler, Palembang menjadi permukiman orang-orang asing yang membentuk koloni, quarters, kampung yang mempunyai kekuasaan sendiri, dan menikmati hak istimewa diluar wilayah hukum yang ada(exterritoriality).
Bentuk ini dimanfaatkan oleh kelompok Cina di Palembang. Setelah Majapahit gagal menempatkan perwakilannya, maka mereka memilih sendiri kepala mereka. Dan menjadikannya sebagai “kepala perwakilan” orang Cina dalam hubungan dengan daratan Cina. Wakil ini disahkan oleh Kaisar Cina.
4. Masa Keraton Jawa
Masa Peralihan menuju pendirian keraton: adanya koloni dan pengaruh Jawa di Palembang. Setidaknya Demak telah punya pengaruh atas Palembang, dengan diberikan gelar kepada Raden Fatah sebagai Pangeran Palembang Anom dan cucunya Trenggana pemegang gelar Ki Mas Palembang.
Dengan kondisi yang siap menerima kepemimpian Jawa, maka dengan mudah keraton dapat didirikan.
Keraton Jawa: pendiri Dinasti
Kekalahan Arya Penangsang merebut tahta Demak, membuat para pendukung melarikan diri ke Palembang pada abad ke 16 .
Ki Gede ing Suro adalah pendiri dinasti Keraton Jawa di Palembang.
Keraton berada di Kuto Gawang hingga dihancurkan oleh VOC th. 1659.
Kuto Gawang, keraton pertama
Bangunan pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang pada awal dan pertengahannya, sedangkan peninggalan diakhir kesultanan Palembang (abad ke 19) nyaris hilang atau hancur tak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan renovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badarudin I(1724-1757).
Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyai yang datang dari Jawa pada abad ke 16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan kerajaan Demak. Para priyai ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyai yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede ing Sura. Dari nama dan gelarnya dapat diketahui setidaknya dia adalah seorang Sura, berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J.de Graaf :”Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis dan Kia Ageng Pemanahan, dan bukan raden , menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Tetapi memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka didaerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede dibelakang sebutan Ki.”
Keraton pertama yang didirikan oleh Ki Gede ing Sura adalah Keraton Kuta Gawang, situsnya sekarang menjadi kompleks pabrik Pupuk Sriwijaya(PUSRI). Makamnya berada diluar Kuta Gawang, yang sekarang dikenal sebagai Makam Candi Gede ing Suro. Nama kerajaan yang didirikan adalah nama Palembang, suatu nama yang kharismatis dalam dunia Melayu. Legimitasi yang mereka bawa adalah dari kerajaan Demak, yang juga merupakan “pewaris” kerajaan Majapahit. Memperkuat diri mereka ditengah orang-orang Melayu di Palembang, selain melakukan perkawinan antar keluarga keraton dengan orang-orang besar Melayu, juga mereka mengadaptasi kebudayaan Melayu.
Keraton yang menjadi inti ibukota secara kosmologis merupakan pusat kekuatan magis dari kerajaan itu. Keraton Palembang adalah pusat dari Batanghari Sembilan, yang merupakan lambang kosmologi, yaitu adanya delapan penjuru mata angin, dimana penjuru kesembilan berada di Keraton Palembang. Dengan demikian klaim Palembang atas daerah-daerah luarnya berada dibatas-batas Batanghari(sungai). Luas kerajaannya tergantung siapa yang yang menjadi rajanya. Batas kerajaan Palembang bisa besar dan bisa mengecil. Jika rajanya berpengaruh dan berdiplomasi tinggi, daerahnya akan meluas, demikian pula sebaliknya
5. Masa Kesultanan Palembang Darussalam
Ki Mas(Kemas) Hindi bergelar Sultan Abdurahman sebagai pendiri Kesultanan Palembang setelah dia dinobatkan pada tahun 1662.
Keraton Palembang pindah ke Beringin Janggut.
Struktur Kesultanan
IBUKOTA – pusat politik, kebudayaan, sosial dan ekonomi.
KEPUNGUTAN – wilayah yang diatur oleh Sultan karena mempunyai penghasilan, sehingga menjadi obyek pajak dan pungutan.
SIKAP – wilayah dimana dusun atau kumpulan dusun dilepaskan dari Marga, diperintah oleh pamong Sultan Jenang atau Raban. Dibebaskan dari segala bentuk pajak.
SINDANG – wilayah yang menjadi batas kesultanan, berkedudukan sebagai wilayah “merdeka”, ikatannya moral dan kultural.
Keraton sebagai pusat Kebudayaan
KUTO GAWANG – sekitar th 1550-1659
Ki Gede ing Suro(Tuo) - 1547-1587
BERINGIN JANGGUT – 1662 – 1730 an
Sultan Abdurahman (1662 – 1706)
KUTO TENGKURUK – 1737 - 1797
Sultan Mahmud Badaruddin (1724 – 1758)
KUTO BESAK – 1780 selesai 1797
Sultan Muhamad Bahaudin (1774 – 1803)
Kuto Gawang, keraton pertama
Bangunan pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang pada awal dan pertengahannya, sedangkan peninggalan diakhir kesultanan Palembang (abad ke 19) nyaris hilang atau hancur tak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan renovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badarudin I(1724-1757).
Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyai yang datang dari Jawa pada abad ke 16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan kerajaan Demak. Para priyai ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyai yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede ing Sura. Dari nama dan gelarnya dapat diketahui setidaknya dia adalah seorang Sura, berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J.de Graaf :”Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis dan Kia Ageng Pemanahan, dan bukan raden , menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Tetapi memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka didaerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede dibelakang sebutan Ki.”
Keraton pertama yang didirikan oleh Ki Gede ing Sura adalah Keraton Kuta Gawang, situsnya sekarang menjadi kompleks pabrik Pupuk Sriwijaya(PUSRI). Makamnya berada diluar Kuta Gawang, yang sekarang dikenal sebagai Makam Candi Gede ing Suro. Nama kerajaan yang didirikan adalah nama Palembang, suatu nama yang kharismatis dalam dunia Melayu. Legimitasi yang mereka bawa adalah dari kerajaan Demak, yang juga merupakan “pewaris” kerajaan Majapahit. Memperkuat diri mereka ditengah orang-orang Melayu di Palembang, selain melakukan perkawinan antar keluarga keraton dengan orang-orang besar Melayu, juga mereka mengadaptasi kebudayaan Melayu.
Keraton yang menjadi inti ibukota secara kosmologis merupakan pusat kekuatan magis dari kerajaan itu. Keraton Palembang adalah pusat dari Batanghari Sembilan, yang merupakan lambang kosmologi, yaitu adanya delapan penjuru mata angin, dimana penjuru kesembilan berada di Keraton Palembang. Dengan demikian klaim Palembang atas daerah-daerah luarnya berada dibatas-batas Batanghari(sungai). Luas kerajaannya tergantung siapa yang yang menjadi rajanya. Batas kerajaan Palembang bisa besar dan bisa mengecil. Jika rajanya berpengaruh dan berdiplomasi tinggi, daerahnya akan meluas, demikian pula sebaliknya
Gambaran Lokasi
Kuta Tengkuruk(Kuta Batu/Kuta Lama).
Perkembangan kota Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I mengalami kemajuan dan juga modernisasi. Dia adalah tokoh kontroversial, seorang tokoh pembangunan yang modern, realistis dan pragmatis, tapi juga seorang petualang yang kompromistis. Dia adalah tokoh utama dalam pembangunan Palembang, baik dibidang ekonomi, politik maupun tatanan sosial. Dia membangun pengairan sepanjang sungai Mesuji, Ogan, Komering dan Musi, bukan saja untuk pertanian, melainkan sekaligus juga untuk jalan pertahanan.
Tiga buah bangunan monumental dididirikannya, dengan visi, arsitektur dan fungsi yang berlainan satu sama lain. Prioritas utama dalam pembangunan itu adalah makam yang berbentuk kubah untuk dirinya dan keluarganya. Makam ini dibangunnya tahun 1728 diatas perbukitan dipinggir Sungai Musi. Tempat itu bernama Lemabang. Nama ini dapat diindikasikan kalau perbukitan itu memang suatu tempat tanah yang tinggi atau ditinggikan. Untuk mencapai makamnya dari sungai Musi kita harus melewati beberapa gapura dan pagar yang pintunya melengkung ditopang tiang-tiang gaya Eropa. Dari tempat peristirahatan terakhirnya itu, seolah-olah Sultan masih ingin tetap mengawasi kehidupan perkembangan dan perkembangan rakyat dikota Palembang. Bangunan ini adalah bangunan berkubah yang pertama dibangun. Kubah merupakan ciri aristek Islam. Makam Lemabang adalah makam Kesultanan Palembang yang terbesar dan jenasah yang berkubur juga mulai Mahmud Badaruddin I, putra-putranya termasuk Sultan Ahmad Najamudin I(1754-1774) dan cucu Badarudin I yaitu Mohamad Bahaudin(1774-1803).
Pada tahun 1737 dibangun pula keraton yang berada ditepi sungai Tengkuruk, dikenal sebagai keraton Tengkuruk atau Kuta Batu. Kuta ini mempunyai 4 baluwarti(bastion), panjang dan lebarnya adalah 164 m. Kuta ini terletak diatas “pulau” yang dikelilingi oleh: depannya sungai Musi, dibelakangnya sungai Kapuran, disamping sebelah hulu adalah sungai Sekanak dan sebelah hilir sungai Tengkuruk. Kuta ini merupakan keratin ketiga dari Kesultanan Palembang.
Masjid Agung didirikan diatas “pulau” yang sama, berada di utara dari Kuta Tengkuruk, dengan posisi disudut sungai Tengkuruk dan sungai Kapuran. Nama sungai Tengkuruk ini menerbitkan spekulasi, apakah asal kata: Teng atau Te menunjukkan keadaan yang di “urug”. Dalam hal ini arti “urug” menurut bahasa Jawa Kuno adalah timbun, artinya sungai itu digali untuk di”urug” ke lahan yang dibangun untuk Keraton ataupun Masjid. Kelihatan sekali pada saat ini lantai Masjid tingginya lebih dari 1,50 m dari lantai pekarangan. Kemungkinan pada awalnya keadaan lantai masjid ini lebih tinggi lagi. Sedangkan menurut bahasa Kawi, “urug” artinya asri atau indah. Pengertian ini mungkin saja dapat diterima, karena sepanjang sungai tersebut terdapat dua bangunan monumental, yaitu Keraton dan Masjid.
Masjid ini dibangun pertama kali tahun 1738 dan rampung setelah tahun 1748. Sebuah bangunan sangat monumental pada zaman itu, membuat kekaguman orang Eropa, antara lain adalah Dr. Otto Mohnike seorang Jerman yang berkunjung ke Palembang tahun 1874, menyatakan sie ist eine der grossen und schonsten in Niederlandisch-Indien(sebuah masjid terbesar dan terindah di Hindia Belanda)
Masjid Agung selesai dibangun tahun1738 Kuto Tengkuruk atau Kuto Batu
Keraton Beringin Janggut
Jikalau situs ataupun tapakan keraton Palembang yang pertama jelas tempatnya, bahkan petanya ada; demikian pula keraton terakhir Kesultanan Palembang masih wujud keberadaannya. Menjadi pertanyaan dimana situs atau tapakan Keraton Kedua, yaitu Keraton Sultan Abdurahman berada?
Catatan dari keraton Palembang tidak diketemukan sama sekali mengenai letak keraton tersebut.
Kuto Baru atau Kuto Besak
Setelah masa Sultan Mahmud Badarudin I, Kesultanan Palembang Darusalam terus berkembang pesat. Ekonomi Palembang, terutama dalam perdagangan hasil bumi(lada dan hasil hutannya) dan timah memberikan masukan kepada pasar Nusantara, Eropa dan Cina. Dalam keadaan ekonomi yang baik tersebut, perkembangan siyar agama Islam terus meningkat. Bahkan Palembang menjadi Pusat sastra Islam di Nusantara setelah Aceh mengalami kemunduran diabad ke 17. Nama-nama besar para ulama dari Palembang sangat dikenal di Nusantara, antara lain Abdul.Somad al Palimbani, Syihabudin bin Abdallah Muhamad, Kemas Fachrudin, Muhamad Muhyiddin bin Syaikh Syihabudin. Kekayaan dan kejayaan Keraton Palembang saat itu membuat kekaguman tokoh-tokoh Eropa antara lain Thomas Raffles sendiri menyatakan kepada atasannya Lord Minto dalam suratnya tanggal 15 Desember 1810, bahwa:
“ Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan dolar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya”.
Dengan kekayaannya ini maka Sultan Muhamad Bahaudin sanggup mengeluarkan uangnya sendiri dari koceknya seperti yang ditulis oleh pelapor Belanda untuk membangunan sebuah Kuto yang baru, yang kemudian dikenal sebagai Kuto Besak. Kedua nama tersebut yaitu Kuto Baru dan Kuto Besak adalah sebagai pandanan terhadap bangunan Kuto yang dibangun oleh Mahmud Badaruddin I, yang dianggap sebagai Kuto Lama dan Kuto Kecik. Fihak Belanda menyebut kedua kraton ini sebagai de nieuwe kraton dan de oude kraton.
Ukuran dan luas serta isi keraton ini ditulis oleh I.J.Sevenhoven seorang Komisaris Belanda di palembang th 1821.:” Kuto Besak berukuran lebar 77 dan panjang 49 roede(Amsterdam roede = kurang lebih 3,75 m, atau panjangnya ialah 288,75 m. dan lebarnya 183,75 m), dengan keliling tembok yang kuat dan tingginya 30 kaki serta lebarnya 6 atau 7 kaki. Tembok ini diperkuat dengan 4 bastion(baluarti). Didalam masih ada tembok yang serupa dan hampir sama tingginya, dengan pintu-pintu gerbang yang kuat, sehingga dapat dipergunakan untuk pertahanan jika tembok pertama dapat didobrak.”
Atas komentar-komentar tersebut Sultan Mohamad Bahaudin boleh berbangga hati, dan lebih lagi dia boleh berbangga, karena puteranya Sultan Mahmud Badarudin II membuktikan ketangguhan benteng tersebut pada waktu Perang Palembang I dan II ditahun 1819. Pada perang tersebut peluru-peluru korvet Belanda tidak dapat menggetarkan dinding-dinding Kuto Besak. Dua kali serangan di lakukan pada tahun 1819, membuat armada Belanda frustrasi dan mengundurkan diri ke Batavia. Peristiwa ini ditulis dalam suatu syair yang indah yaitu Syair Perang Palembang atau lebih populer dengan sebutan Syair Perang Menteng.
Terhadap suatu serbuan yang berkelebihan(overmacht) dari fihak Belanda, dimana ratusan kapal perang dan 5.000 pasukan terlatih baik, yang sebagian didatangkan dari Eropa, maka pada tahun 1821 Kuta Besak dapat ditaklukan oleh Belanda. Pada tahun 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan dalam peta Nusantara. Kuta Besak dijadikan markas tentara Belanda. Sedangkan Kuta Lama(Kuta Tengkuruk) pada tahun 1825 dibongkar dan bahan-bahan bangunannya dibuat bangunan rumah Komisaris Belanda.
Atas pendudukan Kuta Besak dan penghancuran Kuta Lama, maka konsentrasi kota berada diwilayah ini. Pasar dan kantor-kantor berdiri dilingkungan Kuta Besak, bahkan perahu-perahu pun menjadikannya tempat berlabuh yang ideal.
Sketsa bentuk Benteng Kuto Besak pada masa Sultan Mahmud Badaruddin
6. Masa Kolonial
Masa inter regnum Inggris 1812-1814
Perang Palembang 1819 (I)
Perang Palembang 1819 (II)
Perang Palembang 1821
Sultan Ahmad Najamudin menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda 18 Mei 1823.
Pemerintah tidak langsung s/d 1851.
Pengertian Pa-lembang adalah tempat yang berkumparan air, atau tanah yang berair dicatat pertama kali oleh pelapor Belanda pada tahun 1824 didalam bukunya Proeve Eener Beschrivijng van het Gebied van Palemban. Diterbitkan oleh J.Oomkens, Groningen tahun 1843, dan penulis atau pelapor tersebut adalah W.L.de Sturler(Pensiunan Mayor pada tentara Belanda). Dengan demikian pengertian orang-orang Palembang pada waktu itu tentang nama kotanya adalah ‘tempat yang tergenang air’.
Letak dan bentuk kota.
Kota Palembang terletak sekitar 75 mil dari muara Sungai Musi, dimana muara tersebut terletak di Selat Bangka. Kota itu sendiri terletak dipinggir sungai Musi diantara muara sungai Ogan dan sungai Komering(dua sungai besar yang bermuara di sungai Musi). Kota ini diyakini telah berumur 1320 tahun, berdasarkan atas tafsir dan analisa prasasti Kedukan Bukit.
Dalam penelitian sejarah dan arkeologi yang panjang dan berlarut(sejak tahun 1918), maka setelah berpolemik dalam tulisan-tulisan dan seminar-seminar yang hangat, para pakar dan sarjana berkesimpulan adanya kerajaan besar bernama Sriwijaya yang pada abad ke 7 berpusat di Palembang. Sejak tahun 1982 - 1990 penggalian arkeologi secara intensif dilakukan di kota Palembang. Hasilnya merupakan hasil analisis temuan arkeologi, antara lain: prasasti, arca, keramik, fragmen perahu dan ekskavasi pada permukiman kuno.
Bentuk kota Palembang dari abad ke 8 - 9 berdasarkan laporan dan catatan kronik Cina serta tulisan pelaut Arab dan Parsi dapat diyakini bentuknya adalah memanjang sepanjang sungai Musi mulai dari sekitar Pabrik Pupuk Sriwijaya sampai ke Karang Anyar, dimana dibagian seberang ulu tidak ada permukiman. Bentuk kota ini secara morfologi kota disebut ribbon shaped city(kota berbentuk pita). Luas kota menurut catatan saudagar Arab, Sulayman, pada tahun 815 yang mencatat beberapa gosip para pedagang, bahwa “pantas dapat dipercaya bahwa luas kota ini didengar dari kokok ayam diwaktu subuh dan terus menerus berkokok bersahutan dengan ayam jantan lainnya yang berjarak lebih dari 100 prasang(satu prasang kurang lebih 6,25 km), karena kampungnya berkesinambungan satu sama lain tanpa terputus”. Apa yang dicatat oleh saudagar Arab tersebut, tidak jauh dari anekdot yang dicatat oleh pelapor Belanda L.C.Westenen: bahwa besarnya batas kota ini digambarkan bagaimana seekor kucing dapat berjalan tanpa memijak tanah dari Palembang Lama ke Batanghari Leko, karena cukup dengan hanya melompati dari satu atap ke atap lain dari rumah-rumah penduduk.
Dapat dibayangkan dalam kenyataan Palembang pada masa Sriwijaya tersebut dengan membandingkan letak dari prasasti Telaga Batu yang berada di kampung 2 ilir dan prasasti Kedudukan Bukit di 35 ilir, serta prasasti Talang Tuo yang berada di Kecamatan Talang Kelapa. Dan yang pasti bentuk kota Palembang orientasinya sepanjang sungai Musi dibelahan seberang ilir. Dapat pula dikatakan Palembang pada waktu berada diperairan antara muara Sungai Komering dan Sungai Ogan.
Bagaimana terserak-seraknya kota Palembang pada waktu, seperti arti kata lembang(=terserak-serak, tidak tersusun rapi), dapat dibaca dari catatan Cina abad ke 12 dan 13: “Penduduknya tinggal diluar kota, atau mereka tinggal dirakit diatas air, suatu tempat tinggal yang lantainya terdiri dari bambu. Mereka dibebaskan dari segala bentuk pajak.”
Selanjutnya catatan Cina lainnya yaitu Yeng-yai sheng-lan-chiao-chu;
menggambarkan keadaan masa itu sebagai berikut: “Tempat ini dikelilingi oleh air dan tanah kering sedikit sekali. Para pemimpin semuanya tinggal dirumah-rumah yang dibuat diatas tanah yang kering dipinggiran sungai. Rumah-rumah rakyat biasa terpisah dari rumah pemimpin, mereka semua tinggal diatas rumah-rumah rakit yang diikatkan pada tiang ditepian dengan tali. Apabila air pasang, rakit akan terangkat dan tak akan tenggelam. Seandainya penduduk akan pindah ketempat lain, mereka memindahkan tiang dan menggerakkan rumahnya sendiri tanpa mengalami banyak kesulitan. Didekat muara sungai, pasang dan surut terjadi 2 kali dalam sehari dan semalam.”
Gambaran bagaimana kehidupan penduduk Palembang dengan air atau sungai, digambarkan dengan jelas oleh sarjana biologi Inggris yang terkenal diabad ke 19 sewaktu berkunjung ke Palembang, yaitu Alfred Wallace Russel: “Penduduknya adalah orang Melayu tulen, yang tak akan pernah membangun sebuah rumah diatas tanah kering selagi mereka masih melihat dapat membuat rumah diatas air, dan tak akan pergi kemana-mana dengan berjalan kaki, selagi masih dapat dicapai dengan perahu.”
Gambaran Alfred Wallace Russel tersebut merupakan suatu kenyataan buruk bagi Gemeente Palembang, yaitu suatu kendala saat Gemeente ingin membangun kota Palembang secara modern. Dalam laporan 25 tahun setelah Palembang menjadi Gemeente, yaitu suatu pemerintah kota yang otonom pada tahun 1906 adalah sebagai berikut: “Kesulitan untuk mendapatkan lahan pembangunan yang cocok dalam kota ini disebabkan, disatu fihak masih banyak rawa-rawa diantara tanah yang lebih tinggi, dilain fihak ditanah yang tinggi yang baik itu dipenuhi oleh terutama tanah pekuburan. Generasi-generasi terdahulu memilih tempat tinggal ditanah-tanah rendah dekat air, dan menguburkan jenazah-jenazah mereka ditanah tinggi yang kering( italic oleh penulis).
Selanjutnya laporan pada tahun 1930 menggambarkan bahwa topografi Palembang sebagai suatu waterfront, kota yang menghadap keair dengan anak-anak sungai yang besar dan kecil memotong kedua tepiannya, sehingga membentuk kota laguna. Banyaknya anak-anak sungai memberikan kota ini julukan yang lebih indah, sebagai Indisch Venetie. Gambaran kota lebih lagi mempunyai cirinya yang jelas dengan banyaknya rumah-rumah dibangun diatas tiang-tiang kayu oleh karena permukaan tanah yang luas dari kota ini adalah rawa. Rumah-rumah ini satu dengan lainnya dihubungkan dengan jembatan layang yang sederhana dari kayu diatas tiang-tiang.
Adanya pasang surut dan lebatnya hujan, menyebabkan permukaan air berbeda sangat besar. Perbedaan tingkat pada air pasang surut di musim hujan dengan musim kemarau kira-kira 3,8 meter. Pada saat air pasang banyak tanah tenggelam dibawah air, dimana “tambangan”(perahu) berkeliling dengan lincah disekitar kota, menimbulkan suatu pemandangan bagaikan lukisan. Sebaliknya pada saat air surut, tanah dan solok(anak sungai kecil) berubah, menjadi lumpur dan solok-solok lumpur, yang memberikan pemandangan yang tidak indah dan rakyat menamakannya “kota lumpur”.
Palembang Dari Masa ke Masa
Masa Sriwijaya Abad 7—12
Masa Palembang Abad 12—14
Masa Cina Abad 14—16
Masa Keraton Jawa Abad 16—17
Masa Kesultanan Palembang Darussalam Abad 17—19
Masa Kolonial Abad 19—20
1. Masa Sriwijaya
Prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Palembang
Prasasti Kedukan Bukit 16 Juni 682
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Boom Baru
Prasasti Bukit Seguntang
Prasasti Talang Tuo 23 Maret 684 M
Fragmen k.l sebanyak 30 buah
Faktor-faktor yang mendukung Palembang sebagai Pusat Kerajaan Sriwijaya
Kota Palembang mempunyai keuntungan atas letaknya, yaitu dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara 3 kesatuan wilayah:
- Tanah tinggi Sumatera bagian barat, yaitu pegunungan Bukit Barisan.
- Daerah kaki bukit dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.
- Dataran pesisir Timur-laut.
Keruntuhan Sriwijaya
Persaingan yang keras antara lain dengan Siam dan Jawa.
Konflik dengan Tamil-Cola dan serbuan mereka atas Sriwijaya.
Kebangkitan Islam yang tumbuh dari wilayah Sriwijaya, seperti Pasai.
Pusat Sriwijaya dipindahkan ke Jambi.
Operasi Pamalayu (1272-1292) oleh Kartanegara.
2. Masa Kerajaan Palembang
Palembang sebagai kota pelabuhan masih tetap eksis, walaupun tidak menyandang kedudukan sebagai pusat Sriwijaya.
Tahun 1374 Maharaja Palembang mengirim utusannya ke Cina. Parameswara adalah raja terakhir Palembang.
Mojopahit mengklaim sebagai penguasa Palembang (1350)
3. Palembang Masa Cina
Setelah tidak adanya supreme ruler, Palembang menjadi permukiman orang-orang asing yang membentuk koloni, quarters, kampung yang mempunyai kekuasaan sendiri, dan menikmati hak istimewa diluar wilayah hukum yang ada(exterritoriality).
Bentuk ini dimanfaatkan oleh kelompok Cina di Palembang. Setelah Majapahit gagal menempatkan perwakilannya, maka mereka memilih sendiri kepala mereka. Dan menjadikannya sebagai “kepala perwakilan” orang Cina dalam hubungan dengan daratan Cina. Wakil ini disahkan oleh Kaisar Cina.
4. Masa Keraton Jawa
Masa Peralihan menuju pendirian keraton: adanya koloni dan pengaruh Jawa di Palembang. Setidaknya Demak telah punya pengaruh atas Palembang, dengan diberikan gelar kepada Raden Fatah sebagai Pangeran Palembang Anom dan cucunya Trenggana pemegang gelar Ki Mas Palembang.
Dengan kondisi yang siap menerima kepemimpian Jawa, maka dengan mudah keraton dapat didirikan.
Keraton Jawa: pendiri Dinasti
Kekalahan Arya Penangsang merebut tahta Demak, membuat para pendukung melarikan diri ke Palembang pada abad ke 16 .
Ki Gede ing Suro adalah pendiri dinasti Keraton Jawa di Palembang.
Keraton berada di Kuto Gawang hingga dihancurkan oleh VOC th. 1659.
Kuto Gawang, keraton pertama
Bangunan pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang pada awal dan pertengahannya, sedangkan peninggalan diakhir kesultanan Palembang (abad ke 19) nyaris hilang atau hancur tak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan renovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badarudin I(1724-1757).
Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyai yang datang dari Jawa pada abad ke 16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan kerajaan Demak. Para priyai ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyai yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede ing Sura. Dari nama dan gelarnya dapat diketahui setidaknya dia adalah seorang Sura, berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J.de Graaf :”Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis dan Kia Ageng Pemanahan, dan bukan raden , menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Tetapi memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka didaerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede dibelakang sebutan Ki.”
Keraton pertama yang didirikan oleh Ki Gede ing Sura adalah Keraton Kuta Gawang, situsnya sekarang menjadi kompleks pabrik Pupuk Sriwijaya(PUSRI). Makamnya berada diluar Kuta Gawang, yang sekarang dikenal sebagai Makam Candi Gede ing Suro. Nama kerajaan yang didirikan adalah nama Palembang, suatu nama yang kharismatis dalam dunia Melayu. Legimitasi yang mereka bawa adalah dari kerajaan Demak, yang juga merupakan “pewaris” kerajaan Majapahit. Memperkuat diri mereka ditengah orang-orang Melayu di Palembang, selain melakukan perkawinan antar keluarga keraton dengan orang-orang besar Melayu, juga mereka mengadaptasi kebudayaan Melayu.
Keraton yang menjadi inti ibukota secara kosmologis merupakan pusat kekuatan magis dari kerajaan itu. Keraton Palembang adalah pusat dari Batanghari Sembilan, yang merupakan lambang kosmologi, yaitu adanya delapan penjuru mata angin, dimana penjuru kesembilan berada di Keraton Palembang. Dengan demikian klaim Palembang atas daerah-daerah luarnya berada dibatas-batas Batanghari(sungai). Luas kerajaannya tergantung siapa yang yang menjadi rajanya. Batas kerajaan Palembang bisa besar dan bisa mengecil. Jika rajanya berpengaruh dan berdiplomasi tinggi, daerahnya akan meluas, demikian pula sebaliknya
5. Masa Kesultanan Palembang Darussalam
Ki Mas(Kemas) Hindi bergelar Sultan Abdurahman sebagai pendiri Kesultanan Palembang setelah dia dinobatkan pada tahun 1662.
Keraton Palembang pindah ke Beringin Janggut.
Struktur Kesultanan
IBUKOTA – pusat politik, kebudayaan, sosial dan ekonomi.
KEPUNGUTAN – wilayah yang diatur oleh Sultan karena mempunyai penghasilan, sehingga menjadi obyek pajak dan pungutan.
SIKAP – wilayah dimana dusun atau kumpulan dusun dilepaskan dari Marga, diperintah oleh pamong Sultan Jenang atau Raban. Dibebaskan dari segala bentuk pajak.
SINDANG – wilayah yang menjadi batas kesultanan, berkedudukan sebagai wilayah “merdeka”, ikatannya moral dan kultural.
Keraton sebagai pusat Kebudayaan
KUTO GAWANG – sekitar th 1550-1659
Ki Gede ing Suro(Tuo) - 1547-1587
BERINGIN JANGGUT – 1662 – 1730 an
Sultan Abdurahman (1662 – 1706)
KUTO TENGKURUK – 1737 - 1797
Sultan Mahmud Badaruddin (1724 – 1758)
KUTO BESAK – 1780 selesai 1797
Sultan Muhamad Bahaudin (1774 – 1803)
Kuto Gawang, keraton pertama
Bangunan pada zaman Sriwijaya sudah rusak dan hilang, barangkali wajar saja, karena dimakan oleh waktu lebih dari seribu tahun. Akan tetapi bagaimana dengan nasib bangunan pada zaman Kesultanan Palembang pada awal dan pertengahannya, sedangkan peninggalan diakhir kesultanan Palembang (abad ke 19) nyaris hilang atau hancur tak terpelihara. Pada saat ini hanya Masjid Agung Palembang yang bernasib baik, karena telah direstorasi dan renovasi. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badarudin I(1724-1757).
Keraton Palembang yang pertama kali dibangun oleh para priyai yang datang dari Jawa pada abad ke 16, tepatnya dari wilayah Jipang dalam lingkup kekuasaan kerajaan Demak. Para priyai ini adalah pengikut Aria Jipang, yaitu Pangeran Penangsang yang tewas dalam perebutan tahta Demak. Dengan tewasnya Pangeran Penangsang, maka para pengikutnya melarikan diri dari wilayah Demak. Pimpinan para priyai yang hijrah ke Palembang ini adalah Ki Gede ing Sura. Dari nama dan gelarnya dapat diketahui setidaknya dia adalah seorang Sura, berarti: seorang gagah berani, bersifat kepahlawanan, laki-laki perkasa. Sedangkan gelar Ki Gede menurut H.J.de Graaf :”Ki yang dipakai oleh pendahulu-pendahulu Senapati, yaitu Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis dan Kia Ageng Pemanahan, dan bukan raden , menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari kalangan rendahan. Tetapi memang benar mereka itu merupakan pemuka-pemuka didaerahnya, terbukti mereka itu mempergunakan predikat ageng atau gede dibelakang sebutan Ki.”
Keraton pertama yang didirikan oleh Ki Gede ing Sura adalah Keraton Kuta Gawang, situsnya sekarang menjadi kompleks pabrik Pupuk Sriwijaya(PUSRI). Makamnya berada diluar Kuta Gawang, yang sekarang dikenal sebagai Makam Candi Gede ing Suro. Nama kerajaan yang didirikan adalah nama Palembang, suatu nama yang kharismatis dalam dunia Melayu. Legimitasi yang mereka bawa adalah dari kerajaan Demak, yang juga merupakan “pewaris” kerajaan Majapahit. Memperkuat diri mereka ditengah orang-orang Melayu di Palembang, selain melakukan perkawinan antar keluarga keraton dengan orang-orang besar Melayu, juga mereka mengadaptasi kebudayaan Melayu.
Keraton yang menjadi inti ibukota secara kosmologis merupakan pusat kekuatan magis dari kerajaan itu. Keraton Palembang adalah pusat dari Batanghari Sembilan, yang merupakan lambang kosmologi, yaitu adanya delapan penjuru mata angin, dimana penjuru kesembilan berada di Keraton Palembang. Dengan demikian klaim Palembang atas daerah-daerah luarnya berada dibatas-batas Batanghari(sungai). Luas kerajaannya tergantung siapa yang yang menjadi rajanya. Batas kerajaan Palembang bisa besar dan bisa mengecil. Jika rajanya berpengaruh dan berdiplomasi tinggi, daerahnya akan meluas, demikian pula sebaliknya
Gambaran Lokasi
Kuta Tengkuruk(Kuta Batu/Kuta Lama).
Perkembangan kota Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I mengalami kemajuan dan juga modernisasi. Dia adalah tokoh kontroversial, seorang tokoh pembangunan yang modern, realistis dan pragmatis, tapi juga seorang petualang yang kompromistis. Dia adalah tokoh utama dalam pembangunan Palembang, baik dibidang ekonomi, politik maupun tatanan sosial. Dia membangun pengairan sepanjang sungai Mesuji, Ogan, Komering dan Musi, bukan saja untuk pertanian, melainkan sekaligus juga untuk jalan pertahanan.
Tiga buah bangunan monumental dididirikannya, dengan visi, arsitektur dan fungsi yang berlainan satu sama lain. Prioritas utama dalam pembangunan itu adalah makam yang berbentuk kubah untuk dirinya dan keluarganya. Makam ini dibangunnya tahun 1728 diatas perbukitan dipinggir Sungai Musi. Tempat itu bernama Lemabang. Nama ini dapat diindikasikan kalau perbukitan itu memang suatu tempat tanah yang tinggi atau ditinggikan. Untuk mencapai makamnya dari sungai Musi kita harus melewati beberapa gapura dan pagar yang pintunya melengkung ditopang tiang-tiang gaya Eropa. Dari tempat peristirahatan terakhirnya itu, seolah-olah Sultan masih ingin tetap mengawasi kehidupan perkembangan dan perkembangan rakyat dikota Palembang. Bangunan ini adalah bangunan berkubah yang pertama dibangun. Kubah merupakan ciri aristek Islam. Makam Lemabang adalah makam Kesultanan Palembang yang terbesar dan jenasah yang berkubur juga mulai Mahmud Badaruddin I, putra-putranya termasuk Sultan Ahmad Najamudin I(1754-1774) dan cucu Badarudin I yaitu Mohamad Bahaudin(1774-1803).
Pada tahun 1737 dibangun pula keraton yang berada ditepi sungai Tengkuruk, dikenal sebagai keraton Tengkuruk atau Kuta Batu. Kuta ini mempunyai 4 baluwarti(bastion), panjang dan lebarnya adalah 164 m. Kuta ini terletak diatas “pulau” yang dikelilingi oleh: depannya sungai Musi, dibelakangnya sungai Kapuran, disamping sebelah hulu adalah sungai Sekanak dan sebelah hilir sungai Tengkuruk. Kuta ini merupakan keratin ketiga dari Kesultanan Palembang.
Masjid Agung didirikan diatas “pulau” yang sama, berada di utara dari Kuta Tengkuruk, dengan posisi disudut sungai Tengkuruk dan sungai Kapuran. Nama sungai Tengkuruk ini menerbitkan spekulasi, apakah asal kata: Teng atau Te menunjukkan keadaan yang di “urug”. Dalam hal ini arti “urug” menurut bahasa Jawa Kuno adalah timbun, artinya sungai itu digali untuk di”urug” ke lahan yang dibangun untuk Keraton ataupun Masjid. Kelihatan sekali pada saat ini lantai Masjid tingginya lebih dari 1,50 m dari lantai pekarangan. Kemungkinan pada awalnya keadaan lantai masjid ini lebih tinggi lagi. Sedangkan menurut bahasa Kawi, “urug” artinya asri atau indah. Pengertian ini mungkin saja dapat diterima, karena sepanjang sungai tersebut terdapat dua bangunan monumental, yaitu Keraton dan Masjid.
Masjid ini dibangun pertama kali tahun 1738 dan rampung setelah tahun 1748. Sebuah bangunan sangat monumental pada zaman itu, membuat kekaguman orang Eropa, antara lain adalah Dr. Otto Mohnike seorang Jerman yang berkunjung ke Palembang tahun 1874, menyatakan sie ist eine der grossen und schonsten in Niederlandisch-Indien(sebuah masjid terbesar dan terindah di Hindia Belanda)
Masjid Agung selesai dibangun tahun1738 Kuto Tengkuruk atau Kuto Batu
Keraton Beringin Janggut
Jikalau situs ataupun tapakan keraton Palembang yang pertama jelas tempatnya, bahkan petanya ada; demikian pula keraton terakhir Kesultanan Palembang masih wujud keberadaannya. Menjadi pertanyaan dimana situs atau tapakan Keraton Kedua, yaitu Keraton Sultan Abdurahman berada?
Catatan dari keraton Palembang tidak diketemukan sama sekali mengenai letak keraton tersebut.
Kuto Baru atau Kuto Besak
Setelah masa Sultan Mahmud Badarudin I, Kesultanan Palembang Darusalam terus berkembang pesat. Ekonomi Palembang, terutama dalam perdagangan hasil bumi(lada dan hasil hutannya) dan timah memberikan masukan kepada pasar Nusantara, Eropa dan Cina. Dalam keadaan ekonomi yang baik tersebut, perkembangan siyar agama Islam terus meningkat. Bahkan Palembang menjadi Pusat sastra Islam di Nusantara setelah Aceh mengalami kemunduran diabad ke 17. Nama-nama besar para ulama dari Palembang sangat dikenal di Nusantara, antara lain Abdul.Somad al Palimbani, Syihabudin bin Abdallah Muhamad, Kemas Fachrudin, Muhamad Muhyiddin bin Syaikh Syihabudin. Kekayaan dan kejayaan Keraton Palembang saat itu membuat kekaguman tokoh-tokoh Eropa antara lain Thomas Raffles sendiri menyatakan kepada atasannya Lord Minto dalam suratnya tanggal 15 Desember 1810, bahwa:
“ Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan dolar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya”.
Dengan kekayaannya ini maka Sultan Muhamad Bahaudin sanggup mengeluarkan uangnya sendiri dari koceknya seperti yang ditulis oleh pelapor Belanda untuk membangunan sebuah Kuto yang baru, yang kemudian dikenal sebagai Kuto Besak. Kedua nama tersebut yaitu Kuto Baru dan Kuto Besak adalah sebagai pandanan terhadap bangunan Kuto yang dibangun oleh Mahmud Badaruddin I, yang dianggap sebagai Kuto Lama dan Kuto Kecik. Fihak Belanda menyebut kedua kraton ini sebagai de nieuwe kraton dan de oude kraton.
Ukuran dan luas serta isi keraton ini ditulis oleh I.J.Sevenhoven seorang Komisaris Belanda di palembang th 1821.:” Kuto Besak berukuran lebar 77 dan panjang 49 roede(Amsterdam roede = kurang lebih 3,75 m, atau panjangnya ialah 288,75 m. dan lebarnya 183,75 m), dengan keliling tembok yang kuat dan tingginya 30 kaki serta lebarnya 6 atau 7 kaki. Tembok ini diperkuat dengan 4 bastion(baluarti). Didalam masih ada tembok yang serupa dan hampir sama tingginya, dengan pintu-pintu gerbang yang kuat, sehingga dapat dipergunakan untuk pertahanan jika tembok pertama dapat didobrak.”
Atas komentar-komentar tersebut Sultan Mohamad Bahaudin boleh berbangga hati, dan lebih lagi dia boleh berbangga, karena puteranya Sultan Mahmud Badarudin II membuktikan ketangguhan benteng tersebut pada waktu Perang Palembang I dan II ditahun 1819. Pada perang tersebut peluru-peluru korvet Belanda tidak dapat menggetarkan dinding-dinding Kuto Besak. Dua kali serangan di lakukan pada tahun 1819, membuat armada Belanda frustrasi dan mengundurkan diri ke Batavia. Peristiwa ini ditulis dalam suatu syair yang indah yaitu Syair Perang Palembang atau lebih populer dengan sebutan Syair Perang Menteng.
Terhadap suatu serbuan yang berkelebihan(overmacht) dari fihak Belanda, dimana ratusan kapal perang dan 5.000 pasukan terlatih baik, yang sebagian didatangkan dari Eropa, maka pada tahun 1821 Kuta Besak dapat ditaklukan oleh Belanda. Pada tahun 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan dalam peta Nusantara. Kuta Besak dijadikan markas tentara Belanda. Sedangkan Kuta Lama(Kuta Tengkuruk) pada tahun 1825 dibongkar dan bahan-bahan bangunannya dibuat bangunan rumah Komisaris Belanda.
Atas pendudukan Kuta Besak dan penghancuran Kuta Lama, maka konsentrasi kota berada diwilayah ini. Pasar dan kantor-kantor berdiri dilingkungan Kuta Besak, bahkan perahu-perahu pun menjadikannya tempat berlabuh yang ideal.
Sketsa bentuk Benteng Kuto Besak pada masa Sultan Mahmud Badaruddin
6. Masa Kolonial
Masa inter regnum Inggris 1812-1814
Perang Palembang 1819 (I)
Perang Palembang 1819 (II)
Perang Palembang 1821
Sultan Ahmad Najamudin menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda 18 Mei 1823.
Pemerintah tidak langsung s/d 1851.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar